- 0 comments

Agar Cintamu Berlabuh di Samudera Hatiku

Cinta..aku memanggilmu dengan sebutan yang kusukai karena memang engkau yang ingin kucinta.
Dalam waktu-waktu sendiriku, kuharap hadirnya dirimu mengisi kehampaan semangatku.
Masa-masa berat yang kujalani terasa berat namun harus tetap kujalani. Padahal itu semua akan terasa ringan dengan hadirnya dirimu, Insyaallah.
Cinta izinkan aku mengungkapkan mengapa aku memilihmu.
Dalam perjuangan hidupku kutemukan berbagai duri dan beban yang akhirnya membawaku tuk menyadari bahwa ku tak mampu hidup tanpa Nya. Jika pun ku hidup tanpa diri Nya. Hidupku ibarat hidup dalam neraka yang membakar hatiku dan membutakan mataku serta menggelapkan pandangan hidupku. Syukurku kutemukan Dia melalui tusukan duri-duri tajam dan bongkahan bongkahan besar beban hidup itu.
Dan kusadari tusukan-tusukan itu menjadikan hidupku itu indah dan hatiku dapat menghargai dan mensyukuri walau masih sedikit ku bersyukur.
Cinta tahukah kamu apa yang Dia ilhamkan pada hatiku? Adalah hatiku mencintai apa yang Dia cintai. Ketaatanmu padaNya mengisyaratkan pakaian taqwamu. Halusnya nasihatmu dan perkataanmu mengisyaratkan keindahan akhlakmu. Santunmu dalam menasihati pasangan hidupmu merupakan tanda tingginya pemahamanmu pada agamaNya. Kejujuran dan kebaikanmu selalu menjadi bahan lisanmu untuk mendatangkan keberkahan doa-doamu. Bagaimana Dia tidak mencintaimu Cinta? Dan bagaimana aku menolak cintaNya. Astagfirullah.
Keindahan parasmu Dia tampilkan dalam hatiku bersama keindahan jiwamu. Dia menjadikan dirimu indah bagaikan mutiara yang menentramkan hati jika dipandang. Indahnya parasmu tak akan pernah masuk ke dalam hatiku tanpa adanya indahnya jiwamu. Karena Dia memasukkan cahaya Nya ke dalam hatiku melalui indahnya akhlak jiwamu. Tanpa itu.. semuanya gelap dan aku tak dapat mengatakan dirimu mempesona hatiku. Subhanallah…Cinta kau sungguh mengagumkan.
Dalam setiap akhir sholatku ku berdoa agar diberikan pasangan hidup yang menyejukkan mata. Dan cukuplah penyejuk mata seorang mukmin itu adalah pasangan hidup yang shalihah dan taat pada suaminya. Mata yang sejuk akan jatuh pada hatinya ketentraman dan kedamaian.
Saat aku memilihmu, insyaallah tiada akan pernah aku sesali., karena kutahu Dia selalu menepati janjiNya. Engkaulah penyejuk mataku, Qurrata A’yun. Engkaulah yang insyaallah kelak akan mempertemukan diriku dengan diriNya. MelihatNya dan mencicipi jamuanNya, Insyaallah.
Itulah alasan-alasanku memilihmu karena engkau mutiara yang ditakdirkan begitu indah kulihat karena kilau indahnya akhlakmu memalingkan duniaku.
» Penyegarhati.com
- 0 comments

UMMI KHULSUM - WANITA-WANITA ISTIMEWA VIII

Ummi Khulsum
(Puteri Rasulullah)
Khadijah mempunyai enam anak dari pernikahannya dengan Muhammad SAW. Anak pertama, Qasim ibn Muhammad, meninggal saat usianya menginjak dua tahun. Anak keduanya, Abdullah, juga meninggal saat masih kecil. Muhammad SAW - Khadijah bahu membahu mendidik anak ketiga sampai keenam, semua perempuan, hingga dewasa. Beberapa sejarawan Muslim pernah melontarkan argumen, beberapa dari anak perempuannya itu bukan anak kandung Muhammad. Mereka adalah anak-anak Khadijah RA dari pernikahan sebelumnya.
Sebelum menikahi Muhammad, Khadijah pernah menikah dua kali. Suami pertamanya adalah Hala al-Taminia. Sepeninggal Hala, ia menikahi Otayyik. Menjelang usia 40 tahun, sang suami meninggal. Pernikahan ketiga, saat usianya menginjak 40 tahun, berlangsung pada tahun 595, dengan pemuda Muhammad yang saat itu usianya 25 tahun. Usianya yang berkepala empat saat menikah lah yang menjadi argumentasi para sejarawan itu. Terlalu beresiko secara medis jika benar ia melahirkan enam anak.
Anak perempuan tertuanya, Zainab, menikah dengan Utsman bin Affan. Anak kedua dan ketiganya, Ruqayah dan Ummi Khultsum, menikah dengan dua anak Abu Lahab. Turunnya surat Al Lahab membuat keduanya mengakhiri pernikahannya.
Tak banyak catatan yang menuliskan perjalanan hidup Ummi Khulsum. Dalam satu catatan, ia disebut menikah pertama kali dengan Utaibah bin Abu Lahab. Pernikahan itu berakhir dengan perceraian, karena sang suami menolak Islam, bahkan memerangi.
Pada tahun ketiga Hijrah, ia menikah dengan suami almarhumah kakaknya, Ruqayah, yaitu Utsman bin Affan. Saat itu, Utsman tengah mengalami masa berkabung yang panjang karena kepergian istri yang amat dicintainya. Bahkan, pinangan Umar bin Khattab untuk putrinya, Hafshah, pun ditolaknya. Penolakan Utsman ini mengantarkan Umar pada Rasulullah. Mendengar aduan itu, Rasulullah tersenyum dan berkata, ''Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Abu Bakar dan Utsman sedangkan Utsman akan menikahi wanita yang lebih baik daripada Hafshah.''
Maka di akhir tahun 625, terjadilah perkawinan agung, Rasulullah mengawinkan Utsman dengan Ummi Kaltsum, sedang Hafshah menikah dengan Rasulullah SAW. Saat menikahkan Ummi Khultsum, Rasulullah berkata pada putrinya itu, ''Sesungguhnya, suamimu itu sangat mirip dengan Ibrahim dan Muhammad, ayahmu. Kebahagiaan Utsman pun pulih. Hidup bersama Ummi Khultsum baginya sama membahagiakannya ketika ia menjadi suami Ruqayah. Namun usia perkawinan itu tidak lama. Enam tahun kemudian, tepatnya pada tahun 630, atau tahun ke sembilan Hijrah, Ummi Khultsum berpulang. Dari kedua perkawinannya, Ummi Khultsum tidak mempunyai anak.
Kepergian Ummi Khultsum kembali menorehkan kesedihan di hati Utsman. Bahkan, kesedihannya juga dirasakan dengan sangat oleh Muhammad SAW. Ia menyerukan kepada umatnya, ''Berikan anak perempuan kalian untuk menikah dengan Utsman. Jika saya punya putri ketiga (dua putrinya menikah dengan Utsman-red) maka sudah barang tentu akan saya nikahkan dengan dia. Namun semua putri saya sudah menikah semua.''
Ibn Asakir meriwayatkan dari Ali, Rasulullah SAW berkata pada Utsman, "Jika saya mempunyai empat anak yang belum menikah, saya akan menikahkan mereka satu demi satu dengan Utsman, hingga tak seorang pun yang tidak pernah menikah dengannya." Meski kemudian Utsman menikah lagi, namun momorinya tentang Ruqayah dan Ummi Kaltsum tak pernah sirna.
- 0 comments

TAKUT

by.Sirly Nazmah
Ketika Senja merona
Ku lihat bayang merah bersembuyi di balik mega
Seperti hendak mengatajkan sesuatu yang tak terkata
Seperti menggoda di dalam cerita

Siapakah itu kawan
Siapakah yang bersembuyi dlm kebisuan
Ku ingin kau berkata
Ku ingin kau mengeluarkan suara
Iya suara keadilan ..yg masih menjadi barang mahal
Yang hanya milik si tuan-tuan
Dan tidak pernah di miliki oleh si miskin rentan...
- 0 comments

"Matahari akan Tetap Bersinar dan Menyinari......"

by Cholid Mawardi on Monday, September 12, 2011 at 4:20pm
Setiap perbaikan dibangun untuk tujuan tertentu. Sebagian dibangun demi menunjukkan kemurahan hatinya, sebagian untuk memperoleh kemasyhuran, dan sebagian untuk ganjaran surga. Terkadang kita sering salah berprasangka bahwa perbuatan mengagungkan orang suci, berziarah ke kuburannya adalah perbuatan yang dilarang. Padahal tujuan dari perbuatan tersebut agar semua orang dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari orang suci yang sudah meninggal itu, dan tujuan akhirnya adalah Tuhan.
Orang suci sendiri tidak membutuhkan pengagungan. Mereka telah diagungkan di dalam dan atas nama mereka sendiri. Apabila satu lampu ditempatkan pada satu ketinggian, maka dia tetap memancarkan sinar. Tidak peduli tinggi atau rendah, dan tidak untuk dirinya sendiri. Dia hanya ingin cahayanya menyinari yang lain. Apabila matahari yang di atas langit berada di bawah, maka dia tetap akan menjadi matahari. Namun konsekuensinya dunia akan berada di dalam kegelapan. Dia kemudian ditempatkan di atas; bukan untuk kepentingannya sendiri, melainkan untuk kepentingan orang lain. Hakekatnya, orang suci lebih penting daripada kategori "atas" dan "bawah" maupun pengagungan dari orang-orang.
Ketika setitik kebahagiaan atau cahaya rahmat dari dunia lain memanifestasikan dirinya kepadamu, maka pada saat itu engkau benar-benar tidak peduli kepada kategori "atas" dan "bawah", tidak peduli kepada "tingkat ketuhanan" atau "kepemimpinan", bahkan kepada dirimu sendiri. Bagaimana mungkin orang suci yang merupakan sumber asal cahaya dapat diikat oleh kategori "atas" atau "bawah" ??. Keagungan mutlak hanya milik Tuhan. DIA merdeka dari kategori "atas" atau "bawah". DIA lebih penting dari kategori "atas" atau "bawah". Mereka sama semua di hadapan Tuhan. Kategori "atas" dan "bawah" hanyalah untuk kita yang berwujud fisik material.
Ketika banyak orang melakukan sesuatu yang bertentengan dengan maksud Tuhan, maka DIA menginginkan agar Risalah Muhammad diagungkan, dibuktikan, dan dipertahankan selama-lamanya. Lihatlah betapa banyak penafsiran berbeda yang telah dibuat dari berjilid-jilid Al-Qur'an. Hal ini dimaksudkan untuk memperlihatkan keterpelajaran mereka. Menjelaskan betapa banyak rincian tata bahasa, leksikografi, dan penjelasan retorikal demi menunjukkan betapa terpelajarnya dirinya. Meski demikian, tujuan nyatanya adalah ketuntasan; dan ini adalah pengagungan Risalah Muhammad.
Semua orang kemudian membuat karya Tuhan. Walaupun tampaknya mereka bodoh dari maksud Tuhan, dan bahkan di dalam pikirannya memiliki tujuan yang seluruhnya berbeda. Tuhan menginginkan dunia ini terus berlanjut, sementara orang-orang menyibukkan dirinya dengan hasrat dan memuaskan syahwat dengan perempuan demi makanan lezatnya. Tetapi dari sanalah muncullah anak-anak. Pada perilaku ini, mereka seakan melakukan sesuatu untuk kesenangannya sendiri; padahal sebenarnya untuk pemeliharaan dunia. Mereka kemudian melayani Tuhan, meskipun tidak memiliki perhatian seperti itu. Ini sama halnya dengan orang yang membangun masjid dengan menggunakan banyak pintu, dinding, juga atap. Meski demikian, penghargaannya tertuju kepada kiblat. Sasaran pengagungan yang lebih dihargai.
Keagungan orang suci tidak terdapat pada bentuk luarnya. Ketinggian dan keagungan yang mereka miliki tidak memiliki sifat. Meskipun engkau memakai surban dan berjubah panjang, berjenggot lebat dan berdahi gosong; hal ini tidak berarti tingkat keimananmu di atas orang suci. Ketinggian tidak berada pada bentuk luarnya, karena apabila engkau meletakkan satu dirham pada atap rumah dan selempeng emas di bawah tangga, maka hakekatnya lempeng emas berada "di atas" dirham. Seperti halnya rubi dan permata "di atas" emas; tidak peduli meskipun mereka secara fisikal "di atas" atau "di bawah". Sama halnya sekam berada di atas biji pepadian yang akan digiling, sementara tepung jatuh ke bawah. Apabila tepung tetap berada di atas, apakah mungkin akan menjadi tepung ??. Keunggulan tepung tidak karena bentuk fisikalnya. Di dalam dunia makna sejati memiliki "hakekat". DIA akan tetap berada "di atas" dalam keadaan apapun.
*******************************************************************
Tulisan ini diintisarikan dari karya Syaikh Jalaluddin Rumi yang berjudul: "Yang Mengenal Dirinya... Yang Mengenal Tuhannya..."
- 0 comments

Tak ada Judul

by.Maeza Mania
ku arungi lautan cinta bersama mu,
Dalam suks cita rasa yg tersemat bgt dlm,
Segala ketulusan untukmu Cinta....,

Biarlah ku belai indah...,
Ku sentuh lembut kasih mu...,
Rasa tak ingin ku menepi....

Meski deras'y gelombang siap menghantam
kubentangkan layar dlm perjalanan yg cukup melelah kan
Berharap kan berlabuh dlm biduk cinta mu
Semoga rasa ku dan rasa mu tetap terjaga
- 0 comments

Pesawat Tempurku

By.Iwan Fals
Waktu kau lewat aku sedang mainkan gitar
Sebuah lagu yang kunyanyikan tentang dirimu
Seperti kemarin kamu hanya lemparkan senyum

Lalu pergi begitu saja bagai pesawat tempur

Hei kau yang manis singgahlah dan ikut bernyanyi
Sebentar saja nona sebentar saja hanya sebentar

Rayuan mautku tak membuat kau jadi galak
Bagai seorang diplomat ulung engkau mengelak
Kalau saja aku bukanlah penganggur sudah kupacari kau
Jangan bilang tidak bilang saja iya
Iya lebih baik dari pada kau menangis

Penguasa penguasa berilah hambamu uang
Beri hamba uang beri hamba uang
Penguasa penguasa berilah hambamu uang
Beri hamba uang beri hamba uang

Oh ya andaikata dunia tak punya tentara
Tentu tak ada perang yang banyak makan biaya
Oh ya andaikata dana perang buat diriku
Tentu kau mau singgah bukan cuma tersenyum

Kalau hanya senyum yang engkau berikan
Westerling pun tersenyum
Oh singgahlah sayang pesawat tempurku
Mendarat mulus didalam sanubariku