Begitu pula Pohon Ma’rifat, yang ditanam oleh Allah Swt, dalam ladang qalbu hambaNya yang beriman, Allah Swt senantiasa menyiapkannya dengan kemuliaanNya dan setiap saat dikirimkan awan hujan anugerah dari perbendaharaan rahmat, lalu meneteslah tetesan hujan kemuliaan mellaui petir Qudrat dan kilatan-kilatan kehendakNya, agar hati hamba bersih dari kotoran-kotoran pandangan terhadap prestasi ubudiyah. Lalu Allah Swt mengirimkan indahnya kelembutan kasih sayang dari tirai ubudiyah. Lalu Allah Swt mengirimkan indahnya kelembutan kasih sayang dari tirai pertolonganNya agar seseorang sempurna kewaliannya melalui perlindungan dan penjagaan jiwanya.
Sang arif selamanya thawaf dengan batinnya di bawah lindungan pohon ma’rifat, mencium aromanya, dan memangkasnya dengan pemangkas adab, agar pohon itu selamat dari penyakit dan virus-virus yang merusaknya.
Bila begitu lama batin sang ‘arif ada di bawahnya, dan terus menerus ia memutarinya, ia ingin menikmati buah-buahnya, lalu tangan sucinya menjulur, lalu memetiknya dan dengan wadah kemuliaan, lalu dimakannya dengan mulut kerinduan, sampai ia tyerhangatkan oleh api kemabukan, lalu ia memukul-mukulkan tangan hamparan anugerah hingga sampai ke lautan cinta, kemudian ia meminum seteguk yang membuatnya linglung dari segala hal selain Allah Ta’ala. Mabuk yang tak bisa sadar kecuali karena upaya memohon pertolongan. Kemudian ia terbang dengan sayap-sayap cinta, menembus alam yang tak pernah bisa dipahami oleh imajinasi para makhluk.
Nah silahkan anda ramu menurut tuntunan Mursyid atau Gurtu Sufi anda.
0 comments:
Post a Comment
Terimakasih untuk tidak memberikan Komentar yang bersifat SARA & Profokatif dan kami tidak bertanggung jawab atas komentar pengunjung