- 0 comments

SATU CINTA SEBAIT SYAIR KEBENARAN (1): PENGANTAR

Oleh: Martha Connie Constantia
Kata Pengantar
Kebenaran dan Keniscayaan
Dialog Antar-Iman

Aku ada didalam Kristen yang benar. Juga di dalam islam yang benar. Aku juga ada di semua agama yang benar, yaitu yang menyembah kepada ALLAH yang Esa, taat menjalankan perintah-Nya dan membenarkan semua nabi-nabi yang di utus-Nya. Aku tidak pernah membawa agama, aku membawa kebenaran untuk semua umat manusia.

Isa Al-Masih, seperti kesaksian Martha “Connie” Constantia

Kebenaran adalah bahwa Kristen dan islam membentuk satu kompleks keyakinan, yang satu mulai dengan pribadi, dan yang satunya lagi mulai dengan kata keterpisahan. Mereka tidak menunjuk pada dua wilayah kebenaran yang bertentangan, namun sebuah keniscayaan dialogis.

Hasan Askari, Spiritual Quest, An inter-Religious Dimension.

Bagaimana kita dapat memahami, memaknai dan menempatkan pengalaman Mbak Martha “Connie” Constantia (CC) yang sangat kompleks ini ? Tentu saja, apa yang dialami dan di ceritakan CC adalah sesuatu yang sangat sulit diterima oleh rasio kaum sekuler maupun rasio legal-formalistik kaum agamawan. Walaupun perkembangan pemikiran filsafat mutakhir menunjukan sesuatu kecendrungan untuk menyadari batas-batas dari rasionalitas dan membuka diri pada kemungkinan pengetahuan-pengetahuan ruhaniah.

Kalau berangkat dari tradisi tasawuf Islam, pengalaman ruhani yang dialami oleh CC mungkin dapat dibandingkan dengan apa yang disebut sebagai gejala kasy-syaaf. Bisa disebut sebagai suatu proses pencerahan, yang menjadikan seseorang merasa “terlahir kembali” seperti kupu-kupu keluar dari kepompongnya.

Kasy-syaaf merupakan suatu berkah, walaupun sering kali mengguncangkan dan pedih. Baik bagi yang mengalami maupun bagi orang lain di sekelilingnya. Ia bisa menjadi harapan yang dituju, diupayakan, namun tidak bisa menjadi target yang dipaksakan, atau malah di bikin-bikin. Ia juga bisa “datang” seperti “tamu tak diundang”, biasa disebut sebagai jadzab: seseorang di tarik oleh-Nya ke dalam magnet ketuhanan. Di sini ada faktor penentu, yaitu kehendak, perkenan dan ridlo Tuhan yang Maha Kuasa, Dzat Yang Maha Tampak dan Maha Tersembunyi sekaligus. Oleh karena itu, kasy-syaaf itu sebetulnya gejala yang kompleks dan rumit, sekaligus misterius. Banyak faktor dengan derajat interdependen yang tinggi, yang terjadinya tentu setelah melalui berbagai proses dan tahapnya, namun juga selalu "diseberang“ logika dan perhitungan matematis.

Seorang muslim sebetulnya dididik untuk mengembangkan dan mematangkan religiusitasnya hingga mencapai”pintu” kasy-syaaf ini. Semacam tiket untuk memasuki alam hidup sejati ( hakiki). Dengan memasuki alam ini, seorang muslim akan diuji keutuhan jiwanya, meniti jalan terjal berliku dan berbahaya, mendaki tangga naik maqam-maqam, demi mencapai derajat kedewasaan dan kesempurnaan kemanusiaannya (insan kamil). Hal ini tercermin dalam ritual perayaan ‘ idul fitri yang mengandung pengertian “kelahiran kembali” itu.

Secara lebih dalam, ‘idul fitri bermakna perayaan kembalinya jiwa kedalam fitrah (kesucian ). Ia juga mengandung makna lebih jauh lagi kembali kepada hakikat “ asal dan tujuan” hidup manusia, atau dalam ungkapan jawa “Sangkan Paraning Dumadi”, yaitu hidup didalam kesaksian permanent akan wujud Tuhan Yang Esa, Kasih, Sempurna dan Abadi : Tak Ada yang selain Dia.

Hakikat ”asal dan tujuan” hidup ini menjadi titik ordinat mana setiap kehendak, pikiran, ucapan maupun tindakan manusia mesti dilahirkan. Dan untuk senantiasa berada didalam ”titik” ini manusia membutuhkan perjuangan dan pembelajaran yang terus menerus : jatuh-bangun. Oleh karena itu, didalam perjuangan itu, manusia membutuhkan iman yang teguh. Di dalam “Syair Perahu”nya yang terkenal, Hamzah Fansuri, sufi-penyair-pendidik dari Aceh, menggambarkan iman di dalam perjuangan itu bagai kemudi pelayaran di tengah samudera :

Laut Sailan terlalu dalam
di sanalah perahu rusak dan karam
sungguhpun banyak di sana penyelam
larang mendapat permata nilam.

Jikalau engkau ingati sungguh
angin yang keras menjadi teduh
tambahan selebu tetap yang cabuh
selamat engkau kepulau itu berlabuh

Wujud Allah nama perahunya
ilmu Allah akan dayungnya
iman Allah nama kemudinya
yakin akan Allah nama pawangnya

Di dalam tradisi, ritual ‘idul fitri diatas “dirayakan” setelah seseorang menjalani “ujian iman” yang keras melalui puasa bulan ramadhan selama sebulan penuh: menahan hawa nafsu, secara lahiriah tidak makan-minum dan berhubungan sex di siang hari, dan secara bathiniah menjauhi segala hal yang dapat mengotori hati dan jiwa.

Namun demikian, saya sering merasakanya sebagai ironis. Perayaan ‘idul fitrisering dirayakan dengan pesta yang sanfat gemerlap-massal, mewah melibatkan milyaran modal, dan bahkan secara paradoks “pestanya sudah dimulai” sejak awal bulan puasa yang semestinya merupakan bulan prihatin. Dalam suasana seperti itu, sulit sekali kita menemukan manusia yang “terlahir kembali” secara hakiki. “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tiada berpahala, kecuali lapar dan dahaga” begitu sabda Nabi Muhammad yang terkenal. Artinya, banyak sekali yang tidak menyadari dan menjalani hakekat puasa sebagai pendidikan jiwa, sehingga tradisi dan keimananya gagal membawa “perahu”nya berlabuh dengan selamat, ke pantai hakikat. Seperti puisi Hamzah Fansuri di atas : Laut sailan terlalu dalam/disanalah perahu rusak dan karam/sungguhpun banyak disana penyelam/larang mendapat permata nilam.

Jadi, iman memang tidak pernah stabil. Ia bisa membawa seseorang kepada kesejatian, tetapi juga bisa menjerumuskanya kedalam kepalsuan diri. Ada kalanya kadar iman seseorang berkurang, ada kalanya pula bertambah kokoh. Untuk memperkokoh iman tersebut, di dalam tradisi Islam, seseorang harus mengembangkan dua disiplin : lahir dan batin, syari’at dan hakikat. Disiplin lahir dilakukan dengan menjalani ritual dan perilaku secara baik sesuai tuntunan yang diyakini. Disiplin batin dilakoni dengan mengeksplorasi jiwa, membebaskanya dari kungkungan dogma, mengarahkannya kepada Sumber dari segala Sumber Kebenaran dan Kreativitas, tanpa henti, sehingga dapat selalu memperbaharui pencapaian derajat kemanusiaan yang semakin tinggi.

Namun demikian, seperti saya sampaikan di atas, masalah pengalaman kasy-syaaf ini tetaplah suatu misteri Tuhan Yang Maha Gaib. Ia ditentukan oleh kekuasaan dan Kehendak-Nya. Karena nyatanya, tidak ada kepastian dan jaminan kepada orang yang menjalani kedua disiplin tersebut secara ketat pun akan mengalaminya. Manusia hanya berusaha, Tuhan yang menentukan.

=========================================================================

Oleh: Connie Constantia
Aku tidak tahu sesungguhnya sejak kapan semua kisah ini bermula dan kemana akan bermuara. Mungkin sejak tahun 70-an ketika usiaku 7-9 tahun, atau mungkin sebelum itu, atau jauh lebih jauh lagi sebelum kelahiranku di dunia ini, ketika blue print kehidupanku ditentukan oleh-Nya. Tetapi jelas, tahun 1994 merupakan titik tolak dan tangga naik yang penting bagi kesadaran dan jalan hidupku. Yaitu setelah sebuah pengalaman rohani tak terbayangkan mendatangiku. Mengaduk, memeras dan menguras semua hidupku selama ini, dalam sebuah pertarungan jiwa, pertaruhan eksestensial yang menentukan. Tidak hanya sekali, peristiwanya kemudian berulang beberapa kali pada tahun-tahun berikutnya: 1997,2005 dan 2008. Saat ini, aku tak punya jalan lain kecuali menyampaikan pesan-Nya, mengalir dalam kehendak-Nya.

Apakah nama dari pengalamanku ini? Bagaimana pula memaknai dan menyikapinya? Aku menyerahkan sepenuhnya kepada pembaca untuk dapat menemukan jawabanya masing-masing. Selama 15 tahun terakhir ini aku pribadi bergulat jatuh bangun, dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit tersebut. Tidak hanya di dalam pikiran dan perasaan, melainkan juga di setiap tindakanku. Bahkan tantangan beratku bertambah, bagaimanakh caranya aku mesti menyampaikan dan menceritakanya?

Sebetulnya ada yang bertanya atau lebih tepat mempertanyakan, kenapa mesti diceritakan? Bukankah pengalaman rohani itu bersifat pribadi dan rahasia, yang mana hanya pelakunya yang bisa memiliki dan merasakan? Dan juga karena sifatnya yang rohani, artinya tidak rasional-logis dan faktual-empiris, bukankah dengan menceritakannya justeru dapat memicu kesalahpahaman dan kontroversi ? Bahkan, bukankah pasti akan ada yang menganggapmu sakit jiwa dan gila? Serta lebih jauh lagi akan ada yang menuduhmu murtad, melakukan maker subversi dan berkonspirasi tingkat tinggi dengan iblis? Aku sepenuhnya setuju dengan pertanyaan ini, dari satu sisi. Yaitu sisi pikiran rasionalku. Betapa tidak?! Coba bayangkan seandainya anda yang mengalami penglihatan, tidak hanya dengan mata kepala, tetapi juga dengan seluruh jiwa raga Anda merasakan hadirnya sosok Agung Yesus Kristus atau Isa Al-Masih dan Dia berulang-ulang mengatakan, “aku akan berbicara melalui mulut kamu, sampaikanlah dan jangan kau takut”. Bagaimana perasaan Anda dan apa yang akan Anda lakukan?
Itulah yang terjadi padaku. Tidak hanya di dalam pengalaman rohani itu, bahkan di dalam kehidupan sehari-hari pasca-pengalaman itu, pikiran rasionalku (mungkin seperti Anda). Juga menolak. Ini pasti tidak nyata, halusinasi. Kenapa mesti aku? Siapakah aku? Bukankah aku orang yang tak pantas, awam, dan bodoh ? Bagaimana aku dapat menyampaikanya ? Adakah yang akan mempercayaiku ? Bagaimana dampaknya ? Dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan penolakanku untuk menghindar. Penolakan ini tidak mengada-ada, karena memang faktanya aku tidak bisa membuktikan secara empiris kehadiran Isa Al-Masih. Aku juga bukan agamawan, bukan pemimpin dan mungkin tidak pandai menyampaikan pesan-pesan ini sehingga banyak yang menolak dan menganggapku gila dan murtad. Hal-hal seperti ini membuatku sering merasa frustasi.

Namun masalahnya tidak berhenti di sini. Penolakan rasionalku ini tidak membuat pengalaman ini hilang dan jiwaku tenang. Ternyata dia datang lagi dan berulang beberapa kali. Yesus Kristus atau Isa Al-Masih menjawab rasio dan realita empirisku ini. Kata-kata-Nya yang mengalir deras itu, tidak hanya memaksa dan menakutkanku, tetapi juga sekaligus menguatkan,melindungi,dan menghiburku. Kata-kata-Nya tidak hanya aku dengar di dalam pengalaman rohani, tetapi juga di tunjukan-Nya kepadaku secara empiris di dalam lembar-lembar Kitab suci.

Barang siapa memegang perintahku dan melakukanya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barang siapa mengasihi Aku. Ia akan dikasihi Bapa-Ku. Dan akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diriKu kepadanya.
Yohanes 14: 21

Ya, tepat sekali. Inilah sisi diriku yang lain, yaitu kasih, atau cinta. Aku mencintai Yesus Kristus melebihi apapun, sepanjang hidupku. Sepanjang nanti akan aku ceritakan. Di dalam kisah hidupku yang panjang berliku penuh cadas dan banyak lorong-lorong gelap ketidakpastian yang kujumpai, namun ada satu hal yang pasti, terang benderang dan paling kukuh kupegangi, yaitu bahwa aku mencintai Yesus Kristus atau Isa Al-Masih dengan sepenuh jiwa. Dan ini bukan cinta biasa sejenis cinta biologis atau material. Aku akan merasa bahagia, walau terasa pedih. Karena mencintai-Nya, maka aku tidak bisa menolak-Nya. Termasuk terhadap pengalaman rohaniku ini. Aku tidak bisa menolaknya, dan karena itu, aku mencoba terus menghayati pengalaman itu dan semua yang aku dapatkan di dalamnya.

Ajaib. Ketika aku tenggelam di dalam penghayatan pengalamanku itu, maka intisari yang aku temukan adalah cinta. Dan ketika aku menemukan cinta, maka yang muncul di dalam diriku adalah kepasrahan dan energi. Dengan energi cinta inilah aku mendapatkan kekuatan untuk dapat mengetahui keberadaan hidupku sendiri, menghubungkan dimensi-dimensi masa lalu, masa kini dan masa depan kesejarahanya. Dan pada titik ini, aku menemukan diriku sendiri, secara baru. Sehingga dapat aku katakan bahwa dengan pengalaman rohani ini aku mendapatkan makna, dan makna dari pengalaman rohaniku ini adalah kelahiran, kembali jiwaku.

Dalam terang jiwa baru ini, aku merasa kemanusiaanku mengembang. Kenapa? Karena jiwaku kini terhubung dengan Jiwa Universal, Isa Al-Masih atau Yesus Kristus. Dia membebaskanku dari ego sempit, dogma yang berasal dari kata-kata manusia. Ketika bersabda. “sembahlah Tuhan Allah kita. Tuhan itu Esa. Kasihilah Dia dengan segenap hatimu, sepenuh jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihilah manusia sesamamu seperti dirimu sendiri”. Sehingga dari sini, aku bisa mengatakan lebih lanjut bahwa ketika aku menemukan diri sendiri dengan energi cinta, pada saat yang bersamaan, aku juga menemukan orang lain, semua manusia.

Perasaan cinta kemanusiaan seperti inilah yang menguatkanku untuk berani menuliskan pengalamanku, untuk saling mengingatkan kepada sesama saudara di dalam kebenaran itu. Yesus mengungkapkan Firman Tuhan kepadaku :

Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti di hokum mati! – dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi aku akan menuntut pertanggungjawaban atas nyawanya dari padamu.

Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatanya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahanya, tetapi angkau telah menyelamatkan nyawamu.

Yehezkiel 3 : 18 - 19
Aku jadi semakin yakin, bahwa pengalaman yang aku peroleh bukanlah untuk diriku semata, tetapi juga untuk seluruh manusia. Karena pada hakikatnya, di dalam diri orang lain itu, terdapat diriku juga. Jadi, kenapa aku akhirnya menuliskan pengalamanku ini? Jawabanku adalah karena aku patuh pada perintah-Nya. Pasrah di dalam kebenaran-Nya dan aku juga mencintai manusia. Aku menginginkan keselamatan manusia dan menghormati kebebasanya sekaligus.

*****

Demikianlah, buku ini tidak aku tulis secara langsung, melainkan bantuan penullis. Aku menceritakan pengalaman-pengalamanku dan pesan-pesan yang aku dapatkan kepada penulis, yang merekamnya dan menuliskanya kembali.

Sebagaimana diuraikan diatas, buku ini bukanlah sebuah buku kajian kitab suci atau traktat teologi, juga bukan sebuah penarikan kesimpulan dari proses belajar logis-rasional. Melainkan sebuah pengungkapan keyakinan yang berdasarkan pengalaman nyata di dunia rohani: sebuah kesaksian iman. Oleh karena itu, bahan utama dan merupakan porsi terbesar dari buku ini adalah pengalaman-pengalaman rohaniku, pesan-pesan Yesus dan Firman-Firman Allah yang aku dapatkan. Sebagian pesan dan firman itu aku dapat secara langsung melalui penglihatan atau suara-suara. Sebagian lagi aku dapatkan melalui perantaraan Al-Kitab dan Al-Quran yang lembar-lembarnya seperti terbuka sendiri di hadapanku, dan ayat-ayat yang muncul adalah jawaban atau ungkapan dari pengalamanku.

Meski demikian, buku ini tentu tidak bisa seratus persen menjadi sepenuhnya ungkapan rohani. Karena aku juga terikat oleh rasionalitas manusia. Paling tidak, aku terikat dengan konvensi bahasa dan cara bertutur manusiawi. Oleh karena itu, sebagai kesaksian iman, tentu saja buku ini bisa di anggap ungkapan personalku yang manusiawi. Pembaca mempunyai kebebasan penuh untuk percaya atau meragukan kebenarannya, sejalan dengan tanggung jawab kemanusiaan masing-masing.

*****

Akhirnya, penulisan buku ini mempunyai riwayat yang panjang, dan aku semestinya berterima kasih kepada semua yang telah membantu untuk penerbitan buku ini. Tentu saja, aku tak bisa menyebutkan nama mereka satu persatu. Tapi beberapa nama mesti kusebutkan. Mbak Lies, Uchi, Neni, Sandra, Ermy, dan teman-teman lain yang telah membantu menguatkanku. Mas Iip D Yahya yang pertama kali menuliskan, serta yang terakhir kepada mas Muhammad Jadul Maula yang membantu merevisi, mempertajam Fokus, dan menulis lagi buku ini agar sesuai dengan pesan-pesan inti Isa Al-Masih. Semoga Tuhan memberkati mereka semua.

Melaui buku ini, aku tidak ingin melebih-lebihkan atau merangkai sebuah karangan belaka. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku dapatkan, menaati perintah dan mencintai-Nya, tak lebih dan tak kurang. Allah yang memegang nyawaku, biarlah Dia juga yang menghukum dan mencabut langsung nyawaku, kalau aku berdusta dan apa yang kukatakan bukan perintah-Nya.
SUMBER

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih untuk tidak memberikan Komentar yang bersifat SARA & Profokatif dan kami tidak bertanggung jawab atas komentar pengunjung